Wednesday, March 31, 2010

Hutan Mangrove ditengah "Istana" Ibukota

Jumat, 26/03

Suasana kantor Yayasan Jurnal Perempuan yang juga merupakan kantor majalah tempat saya bekerja - Change Magazine - seketika sesak dan berisik. Tentu saja, karena hari ini saya beserta belasan teman-teman dari berbagai sekolah juga kampus, akan mengadakan green trip ke Hutan Suaka Mangrove Muara Angke yang cukup jauh dari basecamp kami di bilangan Tebet. Dan akhirnya.... Taksi yang kami pesan pun sudah datang! Waktunya berangkaaaat :)

Selama dalam perjalanan, mulut kami pun tak henti-henti membicarakan kira-kira suasana disana bakalan seperti apa ya? Tempatnya becek dan bau tanah basah nggak ya? Hmm... Macet pun rasanya jadi seperti berabad-abad lamanya karena kami semua - meski berbeda-beda taksi - sudah nggak sabar untuk segera sampai di lokasi.

Setelah sempat bertanya-tanya pada banyak orang di jalan soal lokasi yang kita tuju ( ini membuat kami sempat berfikir, apa begitu langkanya orang yang bertandang ke tempat tersebut, sehingga tak banyak orang yang tahu ), akhirnya kita sampai di tempat tujuan dengan selamaaat !!!

Dasar teman-teman ( saya juga sih, hehehe ), pasti senjata utama yang nggak lupa kami bawa adalah Kamera untuk foto-foto di dalam. Eh eh eh... ngomong-ngomong kok udaranya panas banget ya? Padahal ini kan hutan seharusnya adem. Coba kita tengok, ya tentu saja panas! Hutan Suaka sepi pengunjung ini berada di tengah-tengah istana berwujud mall, pertokoan mewah, dan rumah-rumah gedong ! Lengkap dengan kendaraan yang lalu-lalang melintas di depan jalan.

Kami agak terkejut ketika melihat pemandangan Hutan Mangrove yang agak tak terurus. Di dalam rawa, sudah banyak terdapat sampah, dan airnya sudah keruh banget sehingga pemandangan di bawah air ( tempat bibit-bibit mangrove penyelamat itu berada ) menjadi tidak kelihatan. Aduuh... Kenapa jarang sekali orang yang perhatian pada soal-soal sepenting ini, ya?



Setelah keliling-keliling sambil sibuk nyerocos soal kotornya hutan ini, kami pun sampai di sebuah pendopo yang berada hampir diujung dermaga. Yeah, it's discussion time !! Kebetulan, ada tiga orang teman kami dari Solar Generation - Greenpeace Indonesia yang akan membagi cerita serta ilmu soal climate change pada kami. Asyiiiik !!!

Ivy ( salah satu perwakilan dari Solar Generation Indonesia menjelaskan betapa pentingnya hutan mangrove ( yang bisa menjadi penjernih air tanah dan pencegah abrasi air laut ), juga apa saja yang menyebabkan bumi kita ini menjadi semakin panas. Ya diantaranya : hutan yang semakin banyak gundul, penggunaan minyak bumi yang melewati proses pembakaran penghasil CO2 demikian banyak, industri-industri seperti peternakan dan pertanian yang meruapakan sumber nitrogen oksida, dan lain-lain. Supaya lebih gampang dicerna, tim Solar Generation Indonesia juga membawa karton gambar yang dengan sangat kreatifnya menggambarkan proses perubahan iklim dan impact-nya buat para penghuni bumi khususnya manusia.

Selain penyebab-penyebab climate change diatas, Ivy juga aktif menerangkan dampak-dampak menyeramkan ( seperti : banjir yang akan meningkat tajam, lapisan es kutub yang akan semakin mencair, kenaikan permukaan laut, kekeringan, kurangnya Oksigen untuk kita bernafas, hingga pada kelangkaan spesies yang tentunya akan merusak ekosistem dan mengakibatkan kepunahan ), juga cara-cara sederhana nan efektif yang bisa kita lakukan ( ada :menggunakan produk hemat energi, tidak boros dalam pemakaian kertas dan plastik, gunakan kendaraan tak beremisi seperti sepeda, dan sering-sering lah berjalan kaki. ) Banyak kan?!

Nah ini dia nih, sesi yang paling ditunggu-tunggu ! Semua participant bisa saling cerita soal apa saja yang sudah dilakukan untuk mengurangi dampak buruk pemanasan global. Macam-macam sekali, lho ! Ada yang menjadi vegetarian, ada yang selalu bawa tas sendiri saat berbelanja, ada yang ke sekolah naik sepeda, dan ada juga yang sering ditegur tetangga akibat "menunda-nunda" menyalakan lampu pada malam hari ( sst.. Itu saya lho, Hehehe ). Dan yang berani sharing tersebut, dapat hadiah berupa slayer, pin, dan stiker dari Solar Generation. Asik asik asiiiik !!

Sebelum beranjak pulang, kita pun nggak lupa mengumpulkan sampah-sampah sisa "nyemil" kemudian dipilah-pilih karena ada tempat sampah yang dipisahkan perjenis, wooww!!



Habis itu, tim Solar Generation pun mengajarkan kami tarian wajib global warming. Hah? Kok ada tarian segala? Jangan ilfeel dulu ya, karena katanya nih tarian plus lagu ini wajib ditampilkan bersama-sama bagi siapa saja yang ikut konferensi perubahan iklim di seluruh penjuru dunia ! Waaah hitung-hitung latihan nih, siapa tahu salah satu diantara kami ada yang bisa ikut konferensi semacam itu. Lirik lagu nya singkat kok, seperti ini nih:
Uuuu... It's hot in here

Uuuu... It's hot in here

Too much carbon in the atmosfer

Take action, Take action

And get some satisfaction

Hihihi.. Gampang kan?!

Yihaaa ! Perjalanan kami pun akhirnya berakhir sampai disini. Ada banyak manfaat yang bisa diambil, lho. Gara-gara sesi diskusi menarik tadi, kita jadi bisa lebih paham soal apa itu climate change, seberapa bahayanya, dan lengkap dengan cara menanggulanginya. Tentu saja menjadi sebuah pelajaran berharga yang disampaikan dengan cara berbeda karena langsung di "laboratorium alami" nya, bukan di kelas sambil menghadap papan tulis seperti di sekolah atau kampus.

Intinya...

Stop Global Warming, and Save Our Future !

Tuesday, March 30, 2010

Keyakinan → Sebuah Cerita Pendek tentang Cinta dan Problematika

“ Ditya ‘tuh memang keren banget ya Sa. Secara postur tubuh dan tampang, secara prestasi, secara ke-eksisan dia di organisasi-organisasi social, huaaah dari segala aspek yang ada, kayaknya dia menang deh. “
“ Yeah, so? “ Anisa menimpali semua celoteh kak Sari dengan tatapan kosong-lurus kearah jendela bus kota yang malam itu rada lengang penumpang
“ Kok yeah doang Sa? Menurut kamu Ditya segitu kerennya apa nggaaaaaakk? “
“ Iya, keren “

***

Sudah setahun lebih Anisa mengenal Ditya, semenjak mereka berdua bertemu karena sama-sama menjadi volunteer di Organisasi Sosial “ Teens in Action “ – Sebuah organisasi social yang berisikan remaja-remaja kritis yang peduli terhadap isu-isu social terutama menyangkut aktifitas para remaja kurang mampu dan bermasalah di sekitaran Jabodetabek.

Mereka sama-sama duduk di bangku kelas satu SMA, di sekolah yang berbeda – Ditya di SMA BPK Penabur, sementara Anisa merupakan seorang siswi di SMA Muhammadiyah. Perbedaan yang begitu mencolok sudah terlihat jelas cuma dari sekolahnya saja kan? Tapi diluar perbedaan keyakinan antara mereka, Anisa dan Ditya adalah dua orang yang sangat akrab dan sulit dipisahkan. Bahasa klisenya, dimana ada Anisa disitu ada Ditya, dan dimana ada Ditya disitulah Anisa berada.

Namun… Sudah sekitar setengah bulan ini, kedekatan mereka mulai terasa merenggang. Dan semua teman di Organisasi pun tahu, bahwa Anisa yang sengaja menjauhi Ditya. Itu karena Anisa…
Telah jatuh cinta.

“ Gue nggak bisa gini terus nih! Nggak boleh… pokoknya nggak boleh! Gue harus mencegah mati-matian supaya jangan sampe ada kata terlanjur. Gue harus lupain Ditya! Harus ! Secepatnya! “ Anisa pun mulai menodai buku hariannya dengan huruf-huruf besar berwarna merah terang. Ia pun akhirnya menangis. Sesenggukan dibalik bed cover Minnie Mouse nya.

Rupanya kata-kata kak Sari di bus dua malam yang lalu itu masih juga exist terngiang-ngiang di benak Anisa. Harus diakui, Ditya adalah cowok yang nyaris sempurna bagi Anisa. Dia knowledgeable, humoris, smart, berprestasi, dan yang paling penting… “Satu Dunia” sama Anisa. Selama ini mereka nggak pernah bertengkar serius, malah cenderung selalu sepemikiran. Sepertinya, selama ini nggak ada yang bisa bikin nama Ditya “Cacat” di telinga Anisa, dan nggak ada pula yang bisa bikin Anisa benci sama Ditya. Kecuali… Anisa benci Ditya karena dia sudah membuat remaja manis itu jatuh hati.

Ditya dan Anisa sudah sama-sama kenyang dengan gossip perihal hubungan special mereka yang di lebih-lebih kan oleh para teman-temannya di basecamp. Mungkin dulu dia dirinya dan Ditya masih bisa menanggapi dengan tawa atau elakkan ringan. Tentu saja saat perasaan Anisa belum berlabuh ke lain dermaga, tentu saja itu sebelum Ditya belum menjadi se-special seperti saat sekarang.

Kalau saja Anisa bisa marah pada Tuhannya, mungkin hal itu sudah dilakukannya semenjak dua bulan lalu. Dia bisa saja marah sejadi-jadinya pada Allah karena mengapa harus Ditya yang dia suka? Kenapa cowok serba bisa itu harus Ditya? Kenapa dirinya lemah dan akhirnya termakan omongannya sendiri, bahwa nggak akan jadi suka beneran sama Ditya? Dan.. kenapa Ditya dan dirinya harus berbeda Tuhan?

Dulu, Anisa selalu nggak suka dengan kisah percintaan beda agama yang dijalani oleh teman-temannya di sekolah. Dia selalu bilang : “Kalau dari awalnya kita udah beda keyakinan, seterusnya nggak akan ada kata cocok. Jadi, daripada kepalang nyebur mendingan cegah buru-buru deh. Susah plus ribet kalau udah cinta sama orang yang telak berbeda! “

Lalu sekarang? Omongan itu menjadi kenyataan. Hal yang ribet itu, menimpa si pembicara dengan tanpa permisi.

***

Nisadordordor : Gue nggak pernah minta buat suka sama dia Rin… Gue sama sekali nggak pernah order sama hati gue, dan minta semua perasaan ini! Hiks…

Rincess : Nah justru karena lo nggak pernah minta Sa… Jadi semuanya jadi kenyataan. Cinta tuh datang nggak diundang Sa… Nggak dipesen kayak lo pesen pizza… Ya udah sih, tinggal jalanin aja.

Nisadordordor : Jalanin kepala lo kejedot truk sampah??? Ya nggak bisa lah Rin, nggak akan bisa!

Rincess : Nggak ada kata nggak bisa Sa, di dunia ini…

Nisadordordor : Untuk yang satu ini, ADA! ADA Rin !!!

Nisadordordor : Gue nggak booleh jatuh cinta sama Ditya Rin, nggak boleeeh!!

Rincess : Siapa yang ngelarang deh?

Nisadordordor : BOLOOOOTT!! Bakalan ribet tau urusannya Rin. Gue bakalan lebih sakit nantinya. Ngejalanin yang salah itu nggak boleh kan?

Rincess : NYANTAI KEK ! Siapa yang bilang nggak boleh? Lo kan belom nyoba, mana bisa tahu itu ribet atau nggak…

Nisadordordor : Nyoba…nyoba… lo pikir cinta ‘tuh tester parfum di toko? Ini nggak main-main Rin… Gue sama dia nggak akan bisa bersama. Nggak akan…

Nisadordordor : Lo belajar Agama Islam kan Rin? Hubungan percintaan beda agama itu dilarang! Itu haram! Dan mending lo bunuh gue aja daripada gue harus ngejalanin segala sesuatu yang udah jelas-jelas dilarang agama..

Rincess : Denger ya nona manis… Gue nggak nyuruh lo besok kawin sama si Ditya kan? Gue nggak lagi nelpon penghulu atau sediain tiket pesawat ke Australia buat pernikahan kontroversial kalian kan? Gue cuma bilang JALANIN AJA. Jangan dijadiin beban. Biar waktu yang jawab semuanya. Pastinya bakalan ketemu akhir yang baik buat lo berdua. Oke sayaang?

Nisadordordor : Tapi gue bingung harus gimana… Gue bener-bener takut. Gue……

Rincess has signing out and offline.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“ Emang rese tuh bocah! Gue belom kelar curhat, malah offline Messenger tiba-tiba… Nyebeliiiiiiiiiiiin !!! “

“ Tringtrungtrengtrengtrung… “ Nada dering handphone pun menghentikan ocehan Anisa.

“ Besok kamu dateng rapat akbar volunteers kan Sa?
Jangan tidur malem-malem tuh kamu… Besok rapat mulai jam 8 pagi lho….
See you,tomorrow … “
Sender : Ditya Tjandra


Anisa tertegun sesaat membaca pesan singkat dari Ditya itu. Bimbang antara mau membalasnya atau tidak. Dan akhirnya Ia memilih untuk membenamkan handphone-nya ke balik bantal dan meletakkan kepala diatasnya, menghela nafas panjang, kemudian berusaha memaksa mata serta hatinya agar pergi tidur.

***

Rapat besar di markas “ Teens in Action “ pun usai bertepatan dengan jam makan siang dan waktu shalat dzuhur.

“ Sa, sholat bareng yuk! “ Ajak kak Sari.

“ Nggg… aku lagi nggak sholat kak. “ Anisa menanggapi malas dengan tetap meletakkan dagunya diatas meja.

“ Lagi dapet? Hmm.. tumben ya kita nggak barengan. Ya udah, aku sholat dulu ya! “

Oke. Anisa bohong. Dia bukan lagi mengalami “takdir bulanan” melainkan lagi malas. Malas ibadah dan bertemu Tuhan. Lagi bingung mau minta apa lagi sama yang Di Atas.

“ Sa, mau roti nggak? Aku bawa isi susu kesukaan kamu nih… “ Tiba-tiba Ditya menghampiri remaja berambut panjang itu sambil menyodorkan kotak bekal berisi roti

“ Nggak… “ Dan Anisa pun malah melengos pergi

Ditya mengejar hingga ke teras

“ Kamu kenapa sih Sa? Udah lebih dari dua minggu ini kamu begini ! Kamu lagi ada masalah ya? Apa? Cerita lah sama Aku… “

Anisa menghentikan langkah, dan duduk di kursi kayu. Menatap ke bawah. Diam.

“ Sa,.. “

“ Gimana Aku bisa cerita soal masalah yang lagi Aku alami sama orang yang justru penyebab semua masalah ini?! Hah?!! “ Dan diam itu mengaku kalah oleh ledakan tangisan Anisa yang sebetulnya sudah sedari tadi menyesaki kantung mata.

“ Apa?!! Pura-pura nggak ngerti kamu Dit?! Kaget?!! Kamu yang bikin aku jadi begini! Kamu!! “

Ditya memegang pundak Anisa dan menatap matanya dalam-dalam

“ Kenapa Aku yang Kamu salahin? Masalah kita saling suka, bukan sepenuhnya salah Aku Sa ! “

Jawaban Ditya terang saja mengagetkan Anisa. Saling suka? Berarti….

“ Kita nggak bisa Dit, ini semua nggak boleh…. Aku… “ Anisa masih tetap sesenggukan dan hanya menatap lantai

“ Apanya yang nggak bisa sih, Sa? Kita belum coba… Kita belum coba jalanin semua ini, tanpa harus terganggu karena masalah perbedaan keyakinan… “

“ Belum? Aku nggak mau Dit! Aku nggak mau coba-coba untuk urusan sepenting cinta! “

“ Denger ya Sa… Kamu sendiri yang pernah bilang sama Aku dulu. Cinta itu nggak akan ribet, kalau kita nggak bikin ribet cinta itu sendiri. Aku sayang sama Kamu Sa. Aku sadar mungkin masalah keyakinan bakalan terus jadi portal baja yang menghalangi hubungan kita. Tapi… Bukan berarti hal itu menutup semua jalan Sa…. “

Dan suasana di teras itu pun, melumer. Nggak sepanas sebelumnya

“ Ngg… Maksud Kamu? “

“ Kita nggak lagi dikejar deadline untuk lekas membuat judul buat kisah kita Sa… Kita juga nggak punya kewajiban untuk itu… Aku rasa, kalau kita jalanin semuanya murni karena rasa. Tulus tanpa terpaksa. Tuhan pasti bakalan kasih yang terbaik… Kita masih bisa tetep deket tanpa harus pacaran kan Sa? Kita masih bisa tetep sahabatan dan anggap semuanya baik-baik saja kan Sa? “

Dengan berat, Anisa pun menjawab

“ Iya, bisa. “

Akhirnya mereka pun berpelukkan erat. Meski sekilas semua telah selesai. Tapi belum bagi Anisa. Perasaannya. Perasaannya masih ragu. Apakah bisa, Anisa menghapus rasa suka dan cintanya pada Ditya? Apakah Anisa rela “cuma bersahabat” dengan Ditya?

***

“ Dear, Anisa…
Dua hari yang lalu, aku baru saja lepas landas menuju belahan dunia lain Sa. Amerika.
Aku sengaja nggak kasihtahu kamu karena aku tahu ini pasti akan sangat berat. Bukan hanya kamu. Tapi Aku juga merasa demikian.
Aku tahu, ada banyak hal penting di Indonesia yang aku tinggalkan. Termasuk cinta dan perasaan Ku.
Aku harap kamu kuat ya Sa. Aku harap kamu bisa dengan baik menjalani kehidupan di luar sana, tanpa pengawasan aku.
Untuk tiga tahun kedepan, mungkin kita nggak bisa se-intens berkomunikasi kayak sebelumnya. Selain kita berbeda zona waktu, berbeda pola hidup, aku juga disini sibuk membantu mengurus bisnis Ibuku…
Aku sayang kamu Sa. Cuma itu satu-satunya yang bisa aku janjikan saat ini.
Yakinkan diri kamu, kalau kamu bisa menghadapi semua hal.
Karena kehidupan ini ada, atas sebuah keyakinan.
With a lotta love,
Ditya Tjandra “


“ Aku juga yakin, kalau perasaan ini bakalan tetap sama, paling tidak sampai Kamu kembali Dit… “

Bisikkan lirih itu pun meluncur pasti diikuti dengan pendar cahaya lampu jalanan Ibukota yang terasa sangat menyilaukan malam suram itu.


~ Mungkin Tamat ~

Cerita ini terinspirasi dari kisah sahabatku Natiqoh Restia Abadi yang sedang menjalani hubungan pacaran beda agama... Inget ya, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Apalagi untuk sebuah kisah cinta :)

Cerita ini juga adalah hasil pemikiran panjang saya sama sahabat saya Floria Zulvi, yang sedang dalam dilemma akibat jatuh cinta dengan orang yang juga beda agama. Semangat Flor ;)

Makasih buat Mama, Afra,Aquino, Kak Indah ,Ka Ismi, Agrita, Bimo, Destina, Flori, Sherly, Oswald, dan semua teman-teman tercintaku yang senantiasa menginspirasi. I always ❤ you

Friday, March 19, 2010

mimpi panjang mirip koma

Heloooooo everybody ! how are youu? uouo gue harap kalian semua baik baik saja ( kayak pingkan mambo ) ya Folks ! hehehe amiin

haduh haduh semoga saya nggak ditimpukkin bata merah ya ( dipikir kaskus ) gara2 lama banget gak menumpahkan cerita di Blog tercinta saya ini...

YAYAYA ! langsung saja, saya akan mulai bercerita ^^

Jadi, waktu hari senin kemaren gue sama temen2 dari Change Magazine tempat gue kerja itu, kembali mengadakan roadshow di SMAN 37 Jakarta ( gue gak mau cerita soal ada kisah apa dibalik SMA ini, huhu )
Terusss, pulangnya itu gue barengan sama kak Indah sama Teh Melly sampe stasiun UI. Jadilah setelah membeli satu cup kopi dingin rasa hazelnut lengkap dengan bubble gue pun menunggu kereta ekonomi ac tercinta yang akan tiba pukul setengah tujuh malam.
Sambil nunggu, gue sempet kenalan sama salah satu mahasiswi berjilbab yg ternyata eh ternyata anak Komunikasi UI '20009 ( langsung berpikir pasti dia Juniornya Fani temen gue yg anak KOM juga terus lagi skripsi sekarang ).
Berhubung dia juga tinggal di Bogor, akhirnya kita pun naik kereta yang sama. 1 gerbong pula.
Didalam kereta super padattttttt itu gue pun mulai diminta cerita gimana caranya bisa jadi jurnalis di usia 15 tahun. hohoho =D
Karena dia turun duluan di stasiun Bojong Gede, yaudah deh byee kita berpisah disitu dan gue meneruskan perjalanan hingga stasiun akhir yaitu stasiun Bogor.

Pas di Angkot menuju rumah, ujan pun turun. Sumpah ye saat itu gue panik banget soalnya badan gue juga udah mulai gak enak. Tapi syukur alhamdulillah gue bisa nyampe rumah dengan selamat meski dengan basah kuyup akibat naik ojek sambil ujan-ujanan =(
Alhasil, malam itu juga gue demam+pusing dan badan gue panas tinggi hingga keesokkan harinya suhu badan gue nggak kunjung turun.

Nah, di siang hari selasa tanggal 16 maret ituu gue mengalami mimpi panjang yang nggak putus-putus ( sampe2 nyokap gue udah ketakutan, kirain gue koma ).
Dalam mimpi itu ceritanya gue tuh lagi jalan sama cowok, nyari tukang gorengan. Gue sama cowok itu mesra banget pegangan tangan gak lepas2. You know what? cowok itu ganteeeeng benget kayak malaikat, putih bersih, tinggi pokoknya kayak ksatria yg turun dari langit ke7 deh. Tapi anehnya, di kehidupan nyata tuhgue gak kenal sama sekali sama cowok itu, ( kalo kenal mah udah gue jadiin pacar dah ) :p

Balik lagi ke mimpi itu => Gue sama cowok ganteng itu jalan2 kayak ke hutan, taman, dan pantai gitu nyari sesuatu benda titipan nyokap gue. Dalam perjalan aduhai kami berdua itu, gue ketemu sama banyakkkkk banget orang2 yg aslinya beneran ada dalam kehidupan gue. Kayak sutradara, kru2 film, temen2 di majalah gue, sahabat2 waktu KAB, temen2 facebook, pokoknya mereka semua muncul lah dalam mimpi gue namun berperan sebagai orang yang berbeda-beda.

Ah sebenernya susah lah, kalo diceritain detail mimpi indah gue itu... Pokoknya cowok ganteng itu tuh baik banget banget bangettttt :-*

Dan........
DAMPAK setelah mimpi gue itu adalah : GUE JADI GETOL NGELIATIN FOTO-FOTO COWOK. Mau cowok siapa kek, liat di fb kek, liat di twitter, temennya temen gue kek, temennya sahabat gue kek, pokoknya siapapun lah ! Gue tuh penasaran, ya kali aja ada cowok di dunia nyata yang sama kayak di mimpi gue.~

Oke folks, segini dulu ya ceritanya.. Gue belom bisa terlalu lama2 ngetik dan konsentrasi nih. Masih recovery soalnya.
Temen2 yang baik.. Doain gue supaya cepet sembuh yaa hehehe byebyee =)